Friday, May 2, 2014

NORIT SEBAGAI ADSORBEN



NORIT SEBAGAI ADSORBEN

A.      TUJUAN
Adapun tujuan pada percobaan ini adalah mengkaji proses adsorpsi menggunakan norit.

B.       LANDASAN TEORI
Adsorpsi suatu zat pada permukaan adsorben bergantung pada beberapa faktor dan memiliki pola isoterm adsorpsi tertentu. Untuk proses adsorpsi yang terjadi dalam larutan, jumlah zat yang teradsorpsi bergantung pada : (1) jenis adsorben, (2) jenis adsorbat atau zat yang teradsorpsi, (3) luas permukaan adsorben, (4) konsentrasi zat terlarut, dan (5) temperatur. Terdapat tiga pola isoterm adsorpsi, yaitu isoterm adsorpsi Freundlich, Lamngmuir, dan BET (Brunauer, Emmet dan Teller). Adsorpsi molekul atau ion pada permukaan padatan umumnya terbatas pada lapisan satu molekul (monolayer) (Nyoman, 2008).
Jenis-jenis spektrometri yang tercantum di farmakope Indonesia, yaitu spektrofotometri inframerah, spektrofotometri ultraviolet dan cahaya tampak, spektrofotometri atom, spektrofotometri flouresensi, spektrofotometri cahaya bias, spektrofotometri turbidimetri, serta spektrofotometri nefelometri. Fisika farmasi merupakan ilmu yang mempelajari tentang analisis kualitatif serta kuantitatif senyawa organik dan anorganik yang berhubungan dengan sifat fisikanya, misalnya spektrometri massa, spektrofotometri, dan kromatografi (syamsuni, 2006).
Metode pengukuran menggunakan prinsip spektrofotometri adalah berdasarkan absorbsi cahaya pada panjang gelombang tertentu melalui suatu larutan yang mengandung kontaminan yang akan ditentukan konsentrasinya. Proses ini disebut “absorbs spektrofotometri”, dan jika panjang gelombang yang digunakan adalah gelombang cahaya tampak, maka disebut sebagai “kolorimetri”, karena memberikan warna. Selain gelombang cahaya tampak spektrofotometri juga menggunakan panjang gelombang pada gelombang ultraviolet dan inframerah. Prinsip kerja dari metode ini adalah jumlah cahaya yang diabsorbsi oleh larutan sebanding dengan konsentrasi kontaminan dalam larutan (Lestari, 2007).
Ada beberapa faktor yang dapat berpengaruh terhadap proses absorpsi, antara lain kelarutan obat. Obat-obat yang mempunyai kelarutan kecil dalam air, laju pelarutan seringkali merupakan tahap yang paling lambat, oleh karena itu mengakibatkan terjadinya efek penentu kecepatan terhadap bioavailabilitas obat. Tahap yang paling lambat didalam suatu rangkaian proses kinetik disebut tahap penentu kecepatan (Zulkarnain.,dkk., 2008) .
Luas area permukaan pori merupakan suatu parameter yang sangat penting dalam menentukan kualitas dari suatu karbon aktif sebagai adsorben. Hal ini disebabkan karena luas area permukaan pori merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi daya adsorpsi dari suatu adsorben (Idrus,2013).
Dalam analisis kimia dikenal berbagai macam cara untuk mengetahui data kualitatif dan kuantitatif baik yang menggunakan suatu peralatan optik (instrumen) ataupun dengan cara basah. Alat instrumen biasanya dipergunakan untuk menentukan suatu zat berkadar rendah, biasanya dalam satuan ppm (part per million) atau ppb (part per billion). Salah satu metode sederhana untuk menentukan zat organik dan anorga-nik secara kualitatif dan kuantitatif dalam contoh air laut, yaitu dengan metode Spektrofotometri Ultra-violet dan Sinar Tampak. Prinsip kerjanya berdasarkan penyerapan cahaya atau energi radiasi oleh suatu larutan. Jumlah cahaya atau energi radiasi yang diserap memungkinkan pengukuran jumlah zat penyerap dalam larutan secara kuantitatif (Triyati, 1985).
Makin rendah kelarutan suatu zat organik di dalam air, makin mudah diadsorpsi dari larutannya. Hal yang sama, makin kurang polar suatu senyawa organik makin baik teradsorpsi dari larutan yang bersifat polar ke permukaan yang non polar (Kasam, dkk., 2005).



C.      ALAT DAN BAHAN
1.      Alat :
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah ;
·         Erlenmeyer 125 ml 3 buah
·         LabuTakar 1 Liter 1 buah
·         Gelas Kimia 600 ml 1 buah
·         BatangPengaduk
·         Spektronik 20 D
·         Mortir
·         Pipet tetes
·         Sendok Tanduk

2.      Bahan
            Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
·         Zat Warna (Metilen red 1 gram)
·         Kertas Saring
·         Norit
·         Aquades
·         Alkohol




D.    PROSEDUR KERJA



 


-          Dimasukkan ke dalam gelas ukur
-          Tambahkan 20 ml alkohol
-          Isikan sejumlah pelarut
-          Diaduk
-          Diencerkan dengan akuades sampai 1 liter

Larutan induk metilen red 100 Ppm


 


-          Ditimbang 10 mg
-          Dikontakkan dengan larutan metilen red 80, 100, 120 Ppm
-          Dikocok dan disaring
-          Di ukur absorbansinya
     HasilPengamatan...... ?

E.       HASIL PENGAMATAN
Adapun hasil pengamatan pengaruh konsentrasi terhadap absorbansi adalah sebagai berikut :
Konsentrasi
Absorbansi
50 Ppm
0,008
100 Ppm
0,023
150 Ppm
0,033
200 Ppm
0,136
250 Ppm
0,182

Sampel
Absorbansi
80 Ppm
0,004
100 Ppm
0,558
120 Ppm
1,721





Analisis Data
1.      Kurva Standar

2.      Perhitungan
       y        = ax + b
       y        = 0,001 x – 0,020
     0,004   = 0,001 x – 0,020
     0,001x             = 0,024
       x        = 0,024 / 0,001
                  = 24
sampel
awal
akhir
teradsorpsi
Massa teradsorpsi
80 Ppm
80 Ppm
24 Ppm
56 Ppm
2,8 mg
100 Ppm
100 Ppm
58 Ppm
42 Ppm
2,1 mg
120 Ppm
120 Ppm
92 Ppm
28 Ppm
1,4 mg

3.    IsotermAdsorpsi
x
m
x/m
Log x/m
Log c
2,8 mg
10 mg
0,28
- 0,552
1,90
2,1 mg
10 mg
0,21
- 0,677
2
1,4 mg
10 mg
0,14
- 0,85
2,07


Perhitungan
Y              = -0,354 + 0,01
Log x/m    = n log c + log  k
n                = 0,354
k                = 0,01
log k           =  log 0,01        = -2



F.     PEMBAHASAN
Adsorpsi merupakan sebuah peristiwa penyerapan suatu zat pada permukaan zat lain. Zat yang diserap disebut adsorbat atau zat yang terserap. Sedangkan zat yang menyerap disebut adsorben. Oleh karena itu, pada proses adsorpsi dalam larutan, jumlah zat yang teradsorpsi bergantung pada jenis adsorben, jenis adsorbat, luas permukaan adsorben, konsentrasi zat terlarut dan temperatur.
Pada praktikum kali ini pengukuran absorbansi larutan di lakukan dengan menggunakan larutan metilen red dengan variasi 3 konsentrasi. Konsentrasi yang digunakan adalah 80, 100 dan 120 ppm. Adsorben yang digunakan adalah obat norit yang berfungsi sebagai obat penetral racun di dalam tubuh.
Pada percobaan ini adsorban yang digunakan adalah norit. Sebelum digunakan, norit harus digerus dahulu, hal ini bertujuan agar nantinya norit yang sudah halus  dapat  mempermudah absorbsi . Karena semakin luas permukaan adsorben maka daya penyerapannya pun semakin tinggi.  Dimana penggerusan pada norit adalah cara memperluas permukaan adsorbennya.
Aktifasi adalah suatu perlakuan terhadap norit yang bertujuan untuk memperbesar pori yaitu dengan cara memecahkan ikatan hidrokarbon atau mengoksidasi molekul-molekul permukaan sehingga arang mengalami perubahan sifat, baik fisika maupun kimia, yaitu luas permukaannya bertambah besar dan berpengaruh terhadap daya adsorpsi. Selain karbon aktif, yang biasa digunakan sebagai adsorben adalah silika gel, zeolit dan penyaring molekul.
Percobaan adsorpsi tergantung dari konsentrasi dan kereaktifan adsorbat mengadsorpsi zat-zat tertentu. Percobaan ini menggunakan adsorpsi fisika karena adanya gaya van der waals antara adsorben dengan adsorbat yang digunakan sehingga proses adsorpsi hanya terjadi ada permukaan larutan.
Dari data pengamatan dan hasil perhitungan, konsentrasi larutan sebelum adsorpsi lebih tinggi daripada setelah adsorpsi. Hal ini karena larutan metilen red telah diadsorpsi oleh arang aktif. Dari data juga dibuat suatu grafik dimana x/m diplotkan sebagai ordinat dan C sebagai absis.
Adsorpsi karbon membuat konsentrasi larutan metilen red mengalami penurunan. Pada data  diatas penyerapan tiap percobaan terjadi ketidaksamaan antara data 1 sampai 3 dapat dilihat jumlah zat yang teradsorpsi mulai menurun.  Hal ini terjadi karena dalam adsorpsi terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil adsorpsi.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi daya serap adsorpsi, yaitu : (1) Sifat Serapan, Banyak senyawa yang dapat diadsorpsi oleh karbon aktif, tetapi kemampuannya untuk mengadsorpsi berbeda untuk masing- masing senyawa. (2) Temperatur/ suhu, Dalam pemakaian karbon aktif dianjurkan untuk menyelidiki suhu pada saat berlangsungnya proses. Karena tidak ada peraturan umum yang bisa diberikan mengenai suhu yang digunakan dalam adsorpsi. (3)   pH (Derajat Keasaman). (4) Waktu Singgung, Bila karbon aktif ditambahkan dalam suatu cairan, dibutuhkan waktu untuk mencapai kesetimbangan. Waktu yang dibutuhkan berbanding terbalik dengan jumlah arang yang digunakan. Selisih ditentukan oleh dosis karbon aktif, pengadukan juga mempengaruhi waktu singgung. Pengadukan dimaksudkan untuk memberi kesempatan pada partikel karbon aktif untuk bersinggungan dengan senyawa serapan.

Kesalahan –kesalahan yang terjadi pada percobaan ini juga dapat mempengaruhi data percobaan. Kesalahan yang terjadi seperti: kesalahan dalam pembacaan skala pada buret titrasi, kesalahan dalam pengocokan campuran larutan dan  adsorben, kesalahan  yang dilakukan oleh praktikan.

 
G.    KESIMPULAN
Kesimpulan dari percobaan ini adalah norit adalah senyawa karbon yang proses penyerapannya dilakukan dengan menggerus obat tersebut sehingga dapat memperluas permukaan obat tersebut agar lebih mudah terabsorbsi.


DAFTAR PUSTAKA



Idrus, et al. 2013. Pengaruh Suhu Aktivasi Terhadap Kualitas Karbon Aktif BerbahanDasar Tempurung Kelapa. Prisma Fisika. Vol. 1 No.1 Hal. 50-55.
Kasam, Andik Yulianto, Titin Sukma. 2005. Penurunan COD (Chemical Oxygen Demand) dalam Limbah Cair Laboratorium Menggunakan Filter Karbon Aktif Arang Tempurung Kelapa .Logika. Vol. 2 No. 1 Hal. 1-16.
Nyoman, S. 2008. Optimalisasi Adsorpsi Zeolit Terhadap Ion Kromium (III). Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora. Vol. 2 No.1 Hal. 17-33.   

Lestari, fatma. 2007. Bahaya Kimia. Penerbit Buku Kedokteran EGC ; Jakarta
                                                                                         
Syamsuni. 2006. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Penerbit Buku Kedokteran EGC ; Jakarta

Triyati, ety. 1985. Spektrofotometer Ultra-Violet Dan Sinar Tampak Serta Aplikasinya Dalam Oseanologi.  Oseana. Vol.X .  No. 1 Hal. 1-2.

Zulkarnain, A.K., Arundita Kusumawida dan Triani Kurniawati. 2008.  Pengaruh Penambahan Tween 80 Dan Polietilen Glikol 400 Terhadap Absorpsi Piroksikam Melalui Lumen Usus In Situ. Majalah Farmasi Indonesia. Vol.1 No.19 Hal. 1-2.



                                                                                

0 comments:

Post a Comment